Analisis Krisis AirAsia Menghadapi Pandemi
Analisis Krisis AirAsia Menghadapi Pandemi
AirAsia merupakan salah satu maskapai penerbangan swasta terbesar di Malaysia. Maskapai ini dikenal sebagai maskapai bertarif rendah terbaik. AirAsia menghubungkan pengunjung dan destinasi dengan 293 rute dan 90 diantaranya merupakan rute unik. Rute unuik disini ialah rute yang hanya dioperasikan oleh AirAsia Group. AirAsia memiliki filosofi tarif rendah dan operasi yang ramping, sederhana serta efisien.
Pandemi Covid-19 turut memberikan dampak yang signifikan pada dunia penerbangan, bahkan di Indonesia total pergerakan pesawat dan jumlah penumpang di seluruh bandara Angkasa Pura II sempat menyentuh angka minus 90% hanya dalam jangka waktu satu bulan saja. Salah satu maskapai yang terdampak ialah AirAsia. Dilansir dari CNN Indonesia, AirAsia Group mengalami kerugian 992,89 juta ringgit Malaysia atau setara dengan Rp3,4 Triliun pada kuartal II 2020 kemarin. Jumlah penumpang pada kuartal II 2019 yang mencapai 12,84 juta penumpang anjlok menjadi 204.082 penumpang saja pada kuartal 2020. Hal ini membuat pendapatan AirAsia menurun hingga 96%. Sebagian besar kerugian ini disebabkan karena adanya lockdown atau penguncian yang dilakukan oleh berbagai negara guna mencegah penyebaran wabah virus corona.
Kerugian yang dialami oleh pihak AirAsia berimbas pada pemotongan gaji karyawan guna menyelamatkan keuangan perusahaan. Direktur utama PT Indonesia AirAsia Veranita Yosephine menjelaskan jika adanya pemotongan gaji hingga 50%. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki seorang karyawan dalam structural AirAsia maka akan semakin tinggi pula potongan gajinya. Untuk menangani krisis selama masa pandemic, pihak AirAsia telah banyak melakukan inovasi dan kebijakan baru untuk menyelamatkan industry. Salah satunya ialah pengembangan aplikasi AirAsia yang memungkinkan customer untuk melakukan layanan pemesan sendiri. Aplikasi ini di harapkan mampu menyaingi Grab, dan Gojek dengan menjadi aplikasi all-in-one untuk pengiriman makanan, belanja, pembayaran, hiburan dan perjalanan.
Jika diposisikan sebagai Public Relation perusahan AirAsia. Hal pertama yang akan saya lakukan ialah melakukan manejemen kriris, pihak AirAsia sudah melakukan pre-crisis untuk menghadapi krisis pandemic dengan melakukan pemangkasan gaji karyawan. Pada tahap crisis response, pihak AirAsia juga sudah melakukan inovasi dengan mengembangkan aplikasi super untuk memudahkan para penumpang melakukan pemesanan tanpa perlu melakukan kontak dengan orang lain dan petugas. Setelah melakukan tahap pre-crisis dan crisis response maka tahap selanjutnya ialah post-crisis. Sebagai PR perusahaan penting untuk menginformasikan segala kebijakan yang berhubungan dengan pembentukan citra positif perusahaan. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan brand awareness masyarakat ialah dengan mengpublikasikan informasi terkait langkah penanganan perusahaan dalam menghadapi wabah pandemic yaitu dengan mengedepankan perjalanan yang lancer, higienis, dan bebas kotak. Menginformasikan kepada masyrakat jika perusahaan menjamin keselamatan dan keamana penumpang dengan mewajibkan penggunaan masker, penyesuaian layanan makanan dalam pesawat, pembersihan pesawat secara rutin, penyediaan perlengkapan sanitasi, dan pembatasan social di dalam pesawat. Hal ini bertujuan agar masyarakat lebih mudah menilai dan menentukan pilihan untuk menggunakan maskapai penerbangan AirAsia sekaligus untuk membangun citra positif perusahaan di mata masyrakat.
Selain itu, perusahaan juga bisa melakukan promo dan diskon yang menarik agar meningkatkan minat penumpang untuk melakukan penerbangan bersama AirAsia. Dalam melakukan promosi, juga dapat memanfaatkan para influencer social media ataupun artis yang telah memiliki basis pengikut sebagai brand ambassador. Menghadirkan layanan virtual tour, untuk memenuhi hasrat pelanggan yang ingin melakukan perjalanan namun terkendala biaya dan kebijakan. Ini bisa menjadi alternative bagi perusahaan untuk tetap terus berkomunikasi dan berinteraksi dengan pelanggan.

Komentar
Posting Komentar